Rabu, 04 Februari 2015

100 Hari Kabinet Jokowi: Menteri Susi Paling Menonjol

menteri susi berjabat tangan dengan primus dorimulu (pemred suara pembaruan/investor daily/beritasatu.com
survei kompas

mayoritas publik memandang menteri-menteri yang duduk dalam kabinet kerja pemerintahan jokowi-kalla belum menunjukkan kinerja yang menonjol. bahkan, para menteri tersebut ternyata juga belum banyak dikenal publik.

34 menteri (8 menteri perempuan) dilantik 27 oktober 2014. program yang menonjol diantaranya pemberantasan pencurian ikan (illegal fishing), penundaan kurikulum 2013 dan penurunan harga bahan bakar minyak (bbm).

di bidang maritim, 68.8% responden mengaku puas. menteri kelautan dan perikanan, susi pudjiastuti, dinilai delapan dari sepuluh responden memiliki kinerja paling mengesankan.

kementrian perhubungan dengan menteri ignasius jonan juga mendapat apresisasi publik dalam upaya membenahi sektor perhubungan.

di bidang pembangunan manusia dan kebudayaan, terdapat empat kementerian yang kinerjanya dinilai menonjol, di atas 60%, yakni kementerian kebudayaan dan pendidikan dasar menengah (anies baswedan), kementerian agama (lukman hakim saifudin), kementerian sosial (khofifah indar parawansa), dan kementerian kesehatan (nila f moeloek).

TINGKAT PENGENALAN TERHADAP SOSOK MENTERI

menteri susi: 72.5%
menko puan maharani: 59.4%
menteri khofifah: 46%
menteri anis baswedan: 43.3%

TINGKAT KEPUASAN TERHADAP KINERJA MENTERI

menteri susi: 22.9% (sangat puas) dan 61.9% (puas)
menteri khofifah: 5.3% (sangat puas) dan 59% (puas)
menteri anis baswedan: 4.3% (sangat puas) dan 63.6% (puas)
menteri lukman hakim (menteri agama): 64.3% (puas)

sebaliknya: responden paling tidak puas

(37.4%) dengan kinerja menteri desa, pembangunan daerah tertinggal, dan transmigrasi (marwan jafar)
36.9% pada menteri tenaga kerja (hanif dhakiri)
36.9% pada menko politik/hukum/keamanan (tedjo edhy purdijanto)
35.4% pada menko perekonomian (sofyan djalil)
35.1% pada menko puan maharani
34.6% pada menteri hukum dan ham (yasonna h laoly)

Senin, 02 Februari 2015

JAKARTA DALAM SATU PARAGRAF

Oleh Kris da Somerpes

Dulu, pernah di Koran Lampu Merah. Ketika pertama kali masuk, redaktur bilang "harian ini hanya menulis empat titik air: air mata (duka-kesedihan), air darah (pembunuhan-perampokan), air mani (mesum-pemerkosaan) dan air keringat (olahraga)".

Dalam hati kecil, saya terkekeh. Tidak enak untuk tertawa ledak, sebab bisa-bisa kehilangan pekerjaan, apalagi kuliah belum kelar dan biaya hidup Jakarta seperti berlari. Jadi geli-geli sendiri dalam hati. Perut terkocok-kocok.

"Kamu, yang baru, coba menulis tentang air mani". Itu perintah. Saya terperanjat. Mau cari di mana air mani. Tiba-tiba senior bilang "coba cari-cari di sekitar rel kereta, atau di bioskop senen atau kos-kosan".

Ketika itu tahun 2005. Jakarta masih ngeri-ngeri sedap. Maka putar-kelilinglah: mulai lingkar pena sampai tanah abang, kampung melayu sampai pasar ular, kelapa gading sampai daan mogot. Terakhir mengong.

Tidak ada berita hari pertama. "Kenapa tidak ada berita?" tanya senior. "Air maninya tidak kelihatan, karena gelap". Mendengar itu, senior terkekeh. "Nah, tulis itu". Maka jadilah "Bunga-Bunga Tepi Jalan, Mekar Pukul Dua Belas Malam" saya ingat betul itu judul, karena saya tidak tahu apa yang ditulis. Gelap.

Sudah sejak itu, cerita tentang lendir kian licin. Melihat tukang ojek dan abang bajaj baca Lampu Merah, saya 'emosi' sendiri. Mengapa tidak. Sekali mata ditancap ke halaman koran, mereka sudah tahu isinya. Judulnya adalah isinya, isinya adalah lead-nya. Rumus 5W+1H diembat dalam satu paragraf. Titik. Puas.

Apa yang mau saya bilang dari Lampu Merah adalah ini: Jakarta membentangkan banyak cerita. Dan seharusnya kita bisa menulis banyak hal untuk beratus-ratus halaman. Tapi di Lampu Merah, Jakarta yang demikian harus bisa ditulis dalam satu paragraf. Dalam dan melalui satu paragraf itulah Jakarta yang luas dimengerti-paham.

Lampu Merah, memotret Jakarta dari empat titik. Dan setiap titiknya adalah satu paragraf. Dan satu paragraf itulah sebuah Jakarta. Sungguh terlalu...

-------------terimakasihlampumerah---------


Jumat, 16 Januari 2015

James T Riady: RS Siloam Kupang Layani 70% Pasien BPJS

James Riady (duduk kanan) foto bersama Primus Dorimulu (berdiri kanan) pada HUT James Riady ke-58 yang jatuh pada 7 Januari 2014
JAKARTA (Nttdarita) - James Riady, CEO Grup Lippo, mengatakan kehadiran Rumah Sakit (RS) Siloam di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) diperuntukkan bagi 70% pasien peserta BPJS Kesehatan (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan).

RS Siloam Kupang telah diresmikan untuk beroperasi pada 20 Desember 2014 disaksikan oleh Presiden Joko Widodo dan ibu negara Iriani Joko Widodo.

"Kita bertanggung jawab untuk melihat kebutuhan daerah, terutama di daerah masih terbatas fasilitas dan pendidikannya seperti di Kupang. Kebutuhan mendasar mereka adalah layanan pendidikan dan kesehatan. Kami ingin mengambil bagian dalam pembangunan manusia, terutama dalam kedua bidang ini. Karena itulah kami hadir di Kupang," kata James.

James menambahkan, keterbatasan tenaga dokter dan dokter spesialis, masih menjadi tantangan besar dalam pelayanan kesehatan saat ini.

Untuk mengatasinya, melalui Universitas Pelita Harapan (UPH) yang juga dikelola Grup Lippo, akan dilatih 1.000 dokter dan perawat yang terampil setiap tahunnya.

Diperkirakan spesialis di NTT kurang dari 60 orang. Ke depan, Siloam berencana memberikan kesempatan kepada putra-putri NTT untuk menempuh pendidikan kedokteran di UPH.

Baru 30 perawat dari Kupang yang dibiayai untuk belajar dan meningkatkan kompetensi di Jakarta.