DEPOK (NTT Darita)
Buat saudara saudara saya yang mendorong saya untuk kembali ke NTT dan ikut bekerja secara langsung menata NTT, saya infokan bahwa saya telah mengikuti fit and proper test di DPP PDIP dan mengikuti semua proses yang ada disana. Ini untuk menunjukkan juga bahwa saya tidak main main dengan hal ini dan secara serius ingin pulang sebagaimana didorong oleh teman teman semua.
Saya memang belum kembali ke daerah untuk bertemu langsung dengan teman teman dan saudara saudara semua, khususnya di desa desa kita. Saya punya alasan, hingga saat ini saya masih profesional yang bekerja dan tuntutan pekerjaan itu mengharuskan saya untuk juga turun ke desa desa di tempat lain. Turun ke desa dan bertemu dengan masyarakat, buat saya bukan dilakukan dalam konteks kampanye atau memperkenalkan diri agar dipilih. Cara dan metoda itu melekat dalam diri saya, mengalir dalam darah....ada alasan untuk itu.
Jika pun saya memaksa diri untuk turun, saya tidak tidak akan dapat menjangkau seluruh masyarakat di kampung kampung kita, pasti akan ada yang tidak dikunjungi. Hal lain yang sangat praktis, adalah bahwa hal tersebut jelas membutuhkan biaya yang sangat banyak. Saya ikut dalam proses ini, benar benar hanya didasari pada kegalauan ketika disodori pertanyaan: masak kamu gak bersedia pulang untuk bekerja bersama masyarakat kita namun bersedia masuk keluar hutan dan bekerja bersama masyarakat di daerah lain ? Itu pertanyaan yang sangat menohok. Jadilah saya ikut dalam proses ini, benar benar by accident..tidak terencana...bahkan tanpa persiapan.....
Jumat, 20 Oktober 2017
Rabu, 16 Agustus 2017
SDM Terunggul, Profesi Polisi dan Tentara Diminati Generasi NTT
DEPOK (NTT Darita) - Filipus Randy Djogo, putra Nangaroro-Flores jadi salah satu anggota Paskibraka 2017, demikian tulis situs Indonesiasatu.co, media online nasional yang terkoneksi dengan beberapa elit di istana negara ini.
Randy, bersama Audriana Alma Carla Egor dari Manggarai-Flores, mewakili propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), terpilih dalam daftar 68 pelajar SMA menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) di Istana Negara.
Anggota Paskibraka yang dikukuhkan kemarin (15/8) akan bertugas mengibarkan bendera merah putih pada peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2017 besok di halaman Istana Merdeka. Randy berasal dari SMU Setiawan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo.
Silvester Kua, ayah Randy, mengaku bangga karena putranya terpilih mewakili NTT sebagai anggota Paskibraka nasional tahun ini, setelah melalui proses seleksi dari tingkat kabupaten. Di Kupang, hanya enam orang yang masuk seleksi, dan Randy terpilih, menyisihkan peserta terbaik dari Sumba dan Alor.
Randy, bersama Audriana Alma Carla Egor dari Manggarai-Flores, mewakili propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), terpilih dalam daftar 68 pelajar SMA menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) di Istana Negara.
Anggota Paskibraka yang dikukuhkan kemarin (15/8) akan bertugas mengibarkan bendera merah putih pada peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2017 besok di halaman Istana Merdeka. Randy berasal dari SMU Setiawan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo.
Silvester Kua, ayah Randy, mengaku bangga karena putranya terpilih mewakili NTT sebagai anggota Paskibraka nasional tahun ini, setelah melalui proses seleksi dari tingkat kabupaten. Di Kupang, hanya enam orang yang masuk seleksi, dan Randy terpilih, menyisihkan peserta terbaik dari Sumba dan Alor.
Minggu, 11 Juni 2017
POSISI POLITIK QATAR DI KAWASAN ARAB DAN TIMUR TENGAH
Oleh Irjan Buu Lorensius*)
Qatar bersikap inklusif pada entitas politik dari luar negerinya. Qatar terbuka bagi siapapun, termasuk Ikhwanul Muslimin, Hamas dan gerakan pemberontak yang melawan otoritarianisme di negeri-negeri Arab. Lembaga pemberitaan Arab Saudi menuduh Qatar mendukung kelompok teroris sektarian, seperti Ikhwanul Muslimin, NIIS dan Al Qaeda.
Qatar dianggap negeri paradoks. Di satu sisi menjalin hubungan yang baik dengan Amerika Serikat dengan menyediakan wilayahnya sebagai pangkalan militer AS. Namun, di sisi lainnya, Qatar juga mengizinkan Taliban Afganistan membuka kantor di Doha, ibu kota Qatar.
Qatar membuka kesempatan dibangunnya jaringan media Al Jazeera (1996). Media ini merupakan perwujudan liberalisasi di bidang media massa. Jaringan media ini banyak mengabarkan dan mendukung gerakan prodemokrasi di negara-negara Arab dan Timur Tengah sehingga dinilai sebagai ancaman oleh sejumlah negara tersebut.
Qatar bersikap inklusif pada entitas politik dari luar negerinya. Qatar terbuka bagi siapapun, termasuk Ikhwanul Muslimin, Hamas dan gerakan pemberontak yang melawan otoritarianisme di negeri-negeri Arab. Lembaga pemberitaan Arab Saudi menuduh Qatar mendukung kelompok teroris sektarian, seperti Ikhwanul Muslimin, NIIS dan Al Qaeda.
Qatar dianggap negeri paradoks. Di satu sisi menjalin hubungan yang baik dengan Amerika Serikat dengan menyediakan wilayahnya sebagai pangkalan militer AS. Namun, di sisi lainnya, Qatar juga mengizinkan Taliban Afganistan membuka kantor di Doha, ibu kota Qatar.
Qatar membuka kesempatan dibangunnya jaringan media Al Jazeera (1996). Media ini merupakan perwujudan liberalisasi di bidang media massa. Jaringan media ini banyak mengabarkan dan mendukung gerakan prodemokrasi di negara-negara Arab dan Timur Tengah sehingga dinilai sebagai ancaman oleh sejumlah negara tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)


